Sabtu, 09 Februari 2013

PANTAI DREAMLAND

Objek wisata pantai Dreamland berada di daerah bernama Pecatu. Masih di selatan pulau Bali, Jimbaran dekat dengan GWK ini memang memiliki keindahan yang menyamai KUTA dan malah lebih unik dari kuta, banyak yang bilang The next Kuta beach, tempatnya jauh lebih indah dan lebih sepi pengunjung. Pantai Dreamland dikelilingi oleh tebing-tebing yang menjulang tinggi dan dikelilingi batu karang yang besar di sekitar pantainya. Pantai berpasir putih ini, terletak di bawah tebing yang terjal dengan pemandangannya yang begitu memukau.
English Dreamland :: English version

Pantai Dream Land

Asal usul nama Dreamland dikarenakan dulu di area ini sempat terdapat sebuah proyek perumahan dan objek wisata. Namun proyek tersebut terhambat dan terbengkalai sedangkan para penduduk desa Pecatu yang dulunya hidup sebagai petani sangat berharap proyek selesai dan mereka bisa menekuni bisnis lain di bidang pariwisata. Karena besar harapan masyarakat dan tanah ini menjadi tanah masa depan mereka maka diberilah nama tanah ini dengan dream land (tanah impian)
Pantai Dream land sendiri hampir mirip dengan objek wisata pantai Kuta banyak yang bilang The next Kuta beach, namun jauh lebih indah dan lebih sepi pengunjung. Pasir putih dan celah karang yang terjal menjadi pemandangan yang begitu memikat mata untuk dipandang. Airnya pun masih tampak sebening Kristal. Karena tempatnya yang sepi dan tekstur ombaknya yang bisa dibilang lumayan bagus buat surfing, banyak wisatawan mancanegara untuk datang kesini . Tempat ini juga memiliki karang yang luar biasa unik. sering sekali digunakan untuk pemotretan prewed, model atau bahkan untuk shooting film yang ditayangkan di Indonesia dan luar. Karang ini juga yang menambah nuansa erotis dan romantis dari Pantai ini disamping sunsetnya.
  

Pantai Dream Land

Kamis, 08 November 2012

WISATA MURAH

BALI mungkin sudah tidak asing lagi bagi para wisatawan domestik maupun manca negara, tentunya dengan predikat yang sudah sangat tersohor , dan banyak nya wisatawan yang datang baik dari manca negara ataupun domestik, membuat perekonomian  dan kebutuhan hidup di bali menjadi mahal, tapi bagi wisatawan yang berkantong pas-pas  juga bisa menikmati keindahan bali ,,,
 Nah bagi anda yang ingin berwisata  kebali dengan kantong pas - pasan,, kami bisa tawarkan paket menarik untuk anda, datanglah dengan berkelompok minimal 4 org, kami bisa atur tempat wisata, hotel dan kendaraan untuk anda.
bila anda berminat silahkan layangkan email ke  oyot1974@gmail.com,
terimakasih

Selasa, 07 Agustus 2012

Obyek Wisata Nusa Tenggara Barat: Pulau Moyo


Pulau Moyo adalah salah satu objek wisata kelas dunia yang ada di Indonesia. Wisatawan mancanegara seperti Lady Diana dan Mick Jagger pernah diberitakan berlibur di Pulau ini. Pulau yang kecil, sepi namun memiliki kekayaan alam yang luar biasa.

Pulau ini juga dihuni 21 jenis kelelawar, burung, macaque, babi liar, rusa dan ular. Dengan kondisi alam yang masih sangat alami, tidak disarankan memasuki pulau ini tanpa pemandu. Karena ada kemungkinan bisa tersesat. “Namun anehnya, setiap kali ada yang tersesat, pasti tetap menemukan jalan ke luar sendiri. Entah “digiring” oleh burung atau kupu-kupu,” ujar Pak Maman, salah seorang pemandu di sini. Menurutnya lagi, “penghuni” (baca: makhluk halus) hutan di Pulau Moyo tidak suka mengganggu.

Berada 2,5 km Sebelah utara dari pulau Sumbawadi mulut teluk Saleh dengan luas + 30 Ha. Pulau Moyo mempunyai obyek wisata darat dan laut dan termasuk dalam kabupaten Sumbawa Besar provinsi Nusa Tenggara Barat, Pulau Moyo termasuk kawasan eklusif karena dikelola hanya oleh satu Resort yaitu Amanwana. Melihat keindahan pantai, laut dan alamnya, Pulau Moyo memang menawarkan ketenangan bagi penikmat keindahan alam bebas dan bawah laut. Keindahan dan keaslian alamnya pun membuat Pulau Moyo banyak diminati oleh wisatawan asing yang mencari ketenangan dalam berlibur.





5 Makanan Khas Indonesia Yang Hanya Ada Di Bulan Ramadhan


Umat muslim telah memasuki hari kelima di bulan Ramadhan, menurut kalender nasional, hari raya Idul Fitri akan jatuh pada tanggal 19 Agustus 2012. Artinya, umat muslim masih mempunyai waktu 25 hari lagi untuk menjalankan ibadah puasa. Bulan puasa selain dikenal dengan bulan penuh rahmat, juga mempunyai ciri khas dalam ranah kulinerya. Hidangan kolak, kolang kaling, kurma serta timun suri, menjadi menu santapan utama yang umum saat berbuka. Tapi bukan hanya makanan atau minuman yang disebutkan diatas saja yang menjadi sajian khas bulan Ramadhan, masih banyak lagi makanan khas Ramadhan di berbagai penjuru kota di Indonesia. Berikut daftar makanan khas tersebut :
1. Kicak (Yogyakarta)
Kicak 5 Makanan Khas Indonesia Yang Hanya Ada Di Bulan Ramadhan

Kicak, dibuat dari beras ketan yang dicampur dengan parutan kelapa dan potongan buah nangka. Rasanya yang gurih dan manis memang cocok untuk penganan saat berbuka puasa. Tradisi pembuatan kicak bermula di kampung Kauman, Yogyakarta. Pada awalnya kicak terbuat dari parutan singkong yang kemudian dimasak baru dicampur dengan bahan-bahan lain. Kicak dijual dengan harga yang sangat terjangkau. Berkisar diantara Rp 1.250 hingga Rp 2.000 tergantung ukuran dan media pembungkus kicak. Untuk kicak berbungkus daun pisang dijual dengan harga Rp 1.250 sementara bila berbungkus media plastik harganya Rp 1.500.

2. Pakat (Tapanuli)
Pakat 5 Makanan Khas Indonesia Yang Hanya Ada Di Bulan Ramadhan

Masyarakat Tapanuli punya makanan khas untuk berbuka puasa yang jarang ditemui dibulan – bulan lainnya. Makanan ini terbuat dari rotan yang disebut sebagai pakat. Pakat itulah makanan khas yang hanya dapat Anda jumpai di kota Medan selama bulan Ramadhan. Makanan ini berasal dari rotan muda, rotan – rotan muda yang telah dipotong berukuran 1 meter dibakar diatas tungku selama 1 jam. Setelah dipastikan masak, rotan muda dikupas dan diambil bagian dalamnya berwarna putih. Daging rotan kemudian dipotong – potong berukuran 5 centimeter. Untuk menambah kenikmatan, rotan muda kemudian dibubuhi dengan santan kelapa serundeng. Satu batang rotan muda dijual seharga 8 hingga 10 ribu rupiah, sesuai besar jenis rotan.

3. Gulai Siput (Riau)
Gulai Siput 5 Makanan Khas Indonesia Yang Hanya Ada Di Bulan Ramadhan


Riau menyimpan banyak keunikan, salah satunya kekayaan cita rasa dalam kuliner khas tanah melayu,salah satu diantaranya ada gulai siput. Siput sawah merupakan bahan baku utama gulai siput, siput dibuat gulai dan dimasak bersama sayur-sayuran pakis,pucuk daun ubi, daun keladi dan terung asam. Hanya dengan 5000 rupiah, anda bisa menikmati hidangan khas Ramadhan di Tanjungpinang, Kepulauan Riau ini.

4. Sotong Pangkong (Pontianak)
Sotong Pangkong 5 Makanan Khas Indonesia Yang Hanya Ada Di Bulan Ramadhan

Setiap Ramadhan disepanjang Jalan Merdeka Pontianak akan ditemukan banyak pedagang kecil yang menyajikan makanan khas Pontianak. Warga Pontianak biasa menyebutnya Sotong Pangkong, sebab sebelum disajikan cumi dipukul – pukul atau di “pangkong” dalam bahasa Pontianaknya. Makanan ini terbuat dari cumi yang dikeringkan lalu dibakar dengan menggunakan arang, setelah dibakar maka cumi ini akan dipukul – pukul menggunakan palu agar rasanya gurih. Nikmat disantap bersama saos cabe dan cuka sehingga rasanya lengkap dari manis, asin, gurih dan pedas. Satu porsi sotong pangkong dihargai antara 4.000 hingga 15.000 rupiah.

5. Sate Susu (Bali)
Sate Susu 5 Makanan Khas Indonesia Yang Hanya Ada Di Bulan Ramadhan


Bagi warga muslim Bali, makanan khas yang selalu menjadi buruan sebagai hidangan buka puasa adalah sate susu. Makanan tersebut dipercaya dapat meningkatkan daya tahan tubuh selama bulan puasa. terbuat dari bahan utama daging kantung susu sapi yang dimasak diiris kecil-kecil diberi bumbu ragi dan dibakar diatas tungku perapian. Cukup dengan uang 10 ribu rupiah saja, satu porsi sate susu sapi ini bisa anda bawa pulang sebagai hidangan berbuka puasa.








Kamis, 05 Juli 2012

BOROBUDUR



Borobudur temple is built to represent many layers of Buddhist theory. From a birds eye view, the temple is in the shape of a traditional Buddhist mandala. A mandala is central to a great deal of Buddhist and Hindu art, the basic form of most Hindu and Buddhist mandalas is a square with four entry points, and a circular centre point. Working from the exterior to the interior, three zones of consciousness are represented, with the central sphere representing unconsciousness or Nirvana.



According to this Buddhist cosmology, the universe is divided in to three major zones. The Borobudur temple represents these zones in its rising layers.

Zone 1  Kamadhatu
The phenomenal world, the world inhabited by common people.

This base level of Borobudur has been covered by a supporting foundation, so is hidden from view. During an investigation by
JW Yzerman in 1885 the original foot was discovered. Borobudur’s hidden Kamadhatu level consists of 160 reliefs depicting scenes of Karmawibhangga Sutra, the law of cause and effect. Illustrating the human behaviour of desire, the reliefs depict robbing, killing, rape, torture and defamation.
Evidence suggests that the additional base was added during the original construction of the temple. The reason for adding the base is not 100% certain, but likely to be either for stability of the structure, to prevent the base from moving, or for religious reasons - to cover up the more salacious content. The added base is 3.6m in height and 6.5m wide.

A corner of the covering base has been permanently removed to allow visitors to see the hidden foot, and some of the reliefs. See image to the right.

Photography of the entire collection of 160 reliefs is displayed at the Borobudur Museum which is within the Borobudur Archeological Park.

Zone 2 Rapadhatu
The transitional sphere, in which humans are released from worldly matters.
The four square levels of Rapadhatu contain galleries of carved stone reliefs, as well as a chain of niches containing statues of Buddha. In total there are 328 Buddhas on these balustraded levels which also have a great deal of purely ornate reliefs .

The Sanskrit manuscripts that are depicted on this level over 1 300 reliefs are Gandhawyuha, Lalitawistara, Jataka and Awadana. They stretch for 2.5km. In addition there are 1 212 decorative panels.


Zone 3 Arupadhatu
The highest sphere, the abode of the gods.

The three circular terraces leading to a central dome or stupa represent the rising above the world, and these terraces are a great deal less ornate, the purity of form is paramount.

The terraces contain circles of perforated stupas, an inverted bell shape, containing sculptures of Buddha, who face outward from the temple. There are 72 of these stupas in total. The impressive central stupa is currently not as high as the original version, which rose 42m above ground level, the base is 9.9m in diameter. Unlike the stupas surrounding it, the central stupa is empty and conflicting reports suggest that the central void contained relics, and other reports suggest it has always been empty.





HAND OUT
The total of 504 Buddhas are in meditative pose, and the 6 different hand positions represented throughout the temple, often according to the direction the Buddha faces.

These ‘mudra’ symbolise concepts such as charity, reasoning and fearlessness, it is said they tell a story that Buddha’s serene face does not.







RESTORATION
Borobudur was left to the ravages of nature in the 8th Century when the power of Java shifted to the East of the island. The reason for this shift is unknown, but it is often speculated that there was a volcanic eruption and people moved to be away from it.
 
There are manuscripts that relate stories of Javanese re-visiting the site in the 18th Century. But it was the ‘re-discovery’ by the British Sir Stamford Raffles in 1814 that led to greater recognition and also preservation efforts.

In 1815 Raffles commissioned an initial clean up, where 200 labourers spent 45 days felling trees and moving earth from the remains. Many areas of the temple were sagging.

Activities continued with documentation and interpretation of the reliefs. It was during the work of Ijzerman in 1885 that the hidden reliefs at the base of the temple were discovered. It was these hidden reliefs that also revealed some Sanskrit instructions left for the carver, with lettering that was so distinctive that the
construction of the temple was able to be dated, to the middle of the 9th century, during the time of the Saliendra dynasty reign.
A few scenes had been left unfinished, with instructions to the stone carver inscribed in Sanskrit, and the style of lettering is so distinctive that it can be dated specifically to the middle of the 9th century.
In 1907 a large scale restoration was carried out under Dutchman Van Erp that finished in 1911. The work was significant and definitely safeguarded the temple for some time. However, many of the pieces were not put back in their original positions during the restoration.

In 1956 another assessment of the temple was made by a Belgian expert who was sent by UNESCO. His assessment concluded that water damage was significant, and would need to be stemmed if the temple was to have a long term future. The hill below the temple was eroding, the foundations were being weakened and also the reliefs were being eroded.

Preparatory work began in 1963, which amongst other things discovered that the hill was not a natural hill as had always been assumed, but areas of it were loamy soil, mixed with stones and stone chips. The initial work assessed the scale of a restoration to be gigantic, and the Indonesian Government then submitted a proposal to UNESCO in 1968 outlining the works needed.
 
UNESCO gave full support and commenced work to raise funds for the restoration. From 1968 to 1983, research through to restoration took place under UNESCO. Specialists from the world over came to assist in the dismantling, and re-engineering of the site. A great deal of work was also done to develop procedures to prevent the microorganisms eating away the stone.

The UNESCO world heritage listing of Borobudur Temple was inscribed in 1991.


THE TEMPLE CORRIDOR

Accurately in line with Borobudur are two smaller temples, Pawon and Mendut. Given the time in which these temples were built, the accurate positioning achieved remains a mystery. Pawon is 1.15km, and Mendut 3km from Borobudur.

The three temples are used to form a route for the Waisak day festival each
year. Held each year on the day of the full moon in April or May the festival commemorates the birth, enlightenment and death of Gautama Buddha.
This important day in the Buddhist calendar sees many local and international pilgrims walk in procession from Mendut, through to Pawon and then on to Borobudur. It is a colourful and festive occasion supported by the Indonesian government.


Copyright © 2011 Borobudur, Prambanan & Ratu Boko. All Rights Reserved.                            

Selasa, 03 Juli 2012

Wisata Kampung Betawi di sudut Jakarta


Hai warga Jakarta! Kalau bosan berlibur di Ancol dan Monas, kagak ade salahnye berlibur ke Kampung Budaya Betawi Setu Babakan loh. Nyaman, seru dan tambah pengetahuan budaya.

                                          


Kawasan Perkampungan Budaya Betawi ini terletak di perbatasan antara Jakarta dan Depok, lebih tepatnya berada di Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Kawasan dengan luas sekitar kurang lebih 289 hektar ini berada di dua buah setu alam yaitu Setu Babakan dan Setu Mangga bolong.

Di kampung budaya tersebut, kita dapat mengetahui dan mempelajari lebih banyak tentang kebudayaan betawi. Misalnya kesenian Betawi, rumah adat Betawi, dan kehidupan masyarakat Betawi sehari – hari, dengan suasana yang nyaman.

                                             

Kita tidak hanya sebatas menikmati pemandangan setunya saja, tetapi kita juga dapat menikmati setu ini dengan memancing, olahraga sepeda air, kano, perahu naga, dan buat anak2 kecil ada permainan seperti mandi bola, bebek-bebekan. Setu ini dikelilingi oleh rindangnya pohon-pohon buah yang menjadi ciri khas betawi seperti belimbing, kecapi, sawo, jengkol, kemuning, dukuh dan melinjo.

                                                          

Di Kampung Budaya Betawi setu babakan ini dapat menikmati makanan dan minuman khas betawi yang terdapat di sekeliling setu babakan. Mulai dari kerak telor, bir pletok, soto mie, kue rangi dan toge goreng, harganya pun tidak terlalu mahal mulai dari Rp8 ribu sampai Rp15 ribu saja.

                                               

Disana banyak sekali bangunan-bangunan yang sangat kental dengan budaya betawi seperti bangunan galeri budaya betawi, rumah-rumah warganya, masjidnya, dan panggung pertunjukkannya. Selain itu di perkampungan budaya betawi ini banyak sekali kegiatan seperti latihan beksi (olahraga beladiri betawi), dan pementasan kebudayaan Betawi. Mulai dari Lenong sampai Gambang Kromong yang di laksanakan setiap Sabtu dan Minggu. Saat ulang tahun Jakarta yang ke 485, waktu pementasan di tambah. Mulai dari jam 1 siang sampai jam 7 malam.

                                            

Waktu yang terbaik buat berkunjung atau berwisata kesana pada hari Sabtu dan Minggu. Karena terdapat banyak sekali pementasan budaya betawi. Anda bisa melakukan perjalanan dari rumah dengan menggunakan kendaraan pribadi (mobil atau motor) ataupun transportasi umum (bis atau mikrolet). Tidak ada biaya masuk, kok. Hanya perlu bayar parkir sebesar Rp 2000 untuk motor atau Rp 5000 untuk mobil.

Kamis, 21 Juni 2012

Sosrowijayan, Kampung Turis di Pusat Kota Yogyakarta


Berjalan sekitar 200 meter dari Stasiun Tugu, anda akan menemukan kawasan Sosrowijayan yang ditandai oleh sebuah jalan kecil ke arah barat yang bernama sama. Menghubungkan Jalan Jogonegaran dan Jalan Malioboro, Sosrowijayan dibagi menjadi dua daerah, yaitu Sosrowijayan Wetan dan Sosrowijayan Kulon. Daerah Sosrowijayan Wetan-lah yang kemudian dikenal sebagai kampung turis kedua di Yogyakarta setelah Prawirotaman.
Begitu sampai di pertigaan jalan yang dinamai berdasarkan penguasanya dahulu ini (Sosrowijoyo), anda akan disambut oleh sapa ramah pengayuh becak. Biasanya, mereka menawarkan anda untuk mencari penginapan, berkeliling ke Malioboro, atau membeli bakpia Pathuk. Karena kampung turis, banyak pula guide yang jika diminta bersedia mengantar anda untuk menunjukkan penginapan sesuai keinginan anda. Mereka juga akan bercerita seputar tempat wisata di Yogyakarta dan kekhasannya.

 Melangkah memasuki Sosrowijayan, anda akan melihat sebuah bangunan tua yang digunakan sebagai penginapan, yaitu Hotel Aziatic. Bangunan yang berdiri sejak jaman Belanda itu memiliki arsitektur khas Eropa. Bangunan itu memiliki tembok berwarna putih dan tiga pintu dengan beberapa pilar sebagai penyangga di bagian paling depan, sementara tulisan nama hotel digoreskan langsung pada tembok dengan cat warna hitam. Meski sepertinya tidak terpakai lagi, hotel ini pernah dijadikan lokasi syuting film 'Daun di Atas Bantal' yang pernah diputar di Cannes Film Festival.

 SOSROWIJAYAN
Dua buah bookshop seperti di Prawirotaman akan ditemukan bila memasuki gang pertama. Sebagian besar buku yang dijual di bookshop tersebut adalah novel berbahasa Inggris dan sebagian kecil buku-buku berbahasa Indonesia. Di bookshop itu, anda bisa memilih buku dengan leluasa sekaligus melihat sekilas isinya karena tak ada buku yang disegel plastik. Meski buku bekas, kualitas fisik buku masih terjaga sehingga masih layak pula dijadikan koleksi. Soal harga sangat bervariasi, tetapi yang jelas lebih murah dibanding di toko buku.
 SOSROWIJAYAN
Hal lain yang ditawarkan kampung Sosrowijayan adalah kursus membatik yang ditawarkan oleh salah satu penginapan di gang kedua. Kini, tempat kursus itu tengah sepi sehingga anda bisa memanfaatkan untuk belajar membatik lebih intensif. Tak jauh dari penginapan itu juga terdapat studio batik yang dikelola oleh seorang warga Sosrowijayan. Jenis batik yang digarap di studio ini adalah batik lukis, seperti yang ditemukan di kampung Taman, sebelah Kompleks Istana Air Tamansari. Nilai lebih batik lukis adalah warnanya yang lebih bervariasi dan bercorak masa kini.
Sebagai kampung turis, tentu di Sosrowijayan juga terdapat penginapan. Lain dengan di Prawirotaman, penginapan di kampung ini lebih menyatu dengan penduduk karena kebanyakan terletak di gang. Tentu hal itu memberi kelebihan karena anda bisa berinteraksi dengan penduduk setempat. Namun, jika menginginkan penginapan yang lebih privat, anda bisa memilih hotel yang ada di pinggir Jalan Sosrowijayan. Tarif sewa penginapan di kampung terletak di sebelah selatan kawasan Pasar Kembang ini tak jauh berbeda dengan di Prawirotaman.

Saat sore, sambil bersantai setelah lelah mengelilingi Yogyakarta, anda bisa melihat kehidupan anak-anak Sosrowijayan. Biasanya, beberapa anak perempuan bermain lompat tali atau dolanan bocah lainnya sementara anak laki-laki sekedar bercakap di salah satu rumah. Sementara remaja kampung ini banyak yang duduk santai sambil bermain gitar sambil menyanyikan lagu-lagu hits Indonesia. Remaja yang juga tergabung dalam Komunitas Seni Malioboro itu kadang berpentas ketika ada acara tertentu, misalnya Ulang Tahun Yogyakarta.

Layanan jasa wisata juga dengan mudah ditemui di Sosrowijayan. Di pinggir jalan banyak terdapat money changer, warnet dan wartel, persewaan sepeda motor dan mobil, agen travel, dan sebagainya. Bila lapar, anda bisa mendatangi warung yang dibuka warga kampung ini. Di ujung gang pertama misalnya, terdapat sebuah warung yang meski sederhana banyak dimanfaatkan turis asing untuk mengisi perut. Masakannya berupa macam-masam oseng, mie goreng, dan lauk pauk yang lezat. Beberapa resto juga menyediakan jenis masakan seperti steak dengan harga miring.
Menginjak malam, Sosrowijayan semakin marak. Banyak anak muda berkumpul di tepi jalan sementara beberapa cafe menyediakan live music sebagai alternatif hiburan. Berpadu dengan suasana Malioboro, Sosrowijayan menjadi hidup. Sebuah warung kecil bertenda oranye yang biasa disebut warga Yogyakarta sebagai angkringan menjadi tempat bercengkerama yang asyik. Sambil bercakap, anda bisa menikmati teh panas dengan wangi melati, wedang jahe, hingga sate usus yang lezat.

Catatan:
Mohon bersikap hati-hati terhadap tawaran penarik becak untuk mengantarkan anda berwisata keliling kota dengan bayaran Rp. 5000 saja (apalagi kurang dari itu). Banyak kejadian wisatawan yang dibawa berkeliling sekaligus "dipaksa" membeli souvenir di toko-toko yang disinggahi karena oknum penarik becak tersebut akan mendapatkan komisi 50% dari transaksi itu. Kejadian lain adalah tarif dinaikkan secara sepihak di tengah perjalanan. Bila anda mengalami kejadian di atas, mintalah bantuan pada Polisi Pariwisata.

Naskah: Yunanto Wiji Utomo
Copyright © 2006 YogYES.COM