Senin, 11 Juni 2012

Makam Batu Tanatoraja

Photography by Barry Kusuma
www.barrykusuma.com

Makam Batu Tana Toraja

Tempat penguburan Toraja yang diukir.
Dalam masyarakat Toraja, upacara pemakaman merupakan ritual yang paling penting dan berbiaya mahal. Semakin kaya dan berkuasa seseorang, maka biaya upacara pemakamannya akan semakin mahal. Dalam agama aluk, hanya keluarga bangsawan yang berhak menggelar pesta pemakaman yang besar. Pesta pemakaman seorang bangsawan biasanya dihadiri oleh ribuan orang dan berlangsung selama beberapa hari. 


Sebuah tempat prosesi pemakaman yang disebut rante biasanya disiapkan pada sebuah padang rumput yang luas, selain sebagai tempat pelayat yang hadir, juga sebagai tempat lumbung padi, dan berbagai perangkat pemakaman lainnya yang dibuat oleh keluarga yang ditinggalkan. Musik suling, nyanyian, lagu dan puisi, tangisan dan ratapan merupakan ekspresi duka cita yang dilakukan oleh suku Toraja tetapi semua itu tidak berlaku untuk pemakaman anak-anak, orang miskin, dan orang kelas rendah.
Upacara pemakaman ini terkadang baru digelar setelah berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun sejak kematian yang bersangkutan, dengan tujuan agar keluarga yang ditinggalkan dapat mengumpulkan cukup uang untuk menutupi biaya pemakaman.[24] Suku Toraja percaya bahwa kematian bukanlah sesuatu yang datang dengan tiba-tiba tetapi merupakan sebuah proses yang bertahap menuju Puya (dunia arwah, atau akhirat). Dalam masa penungguan itu, jenazah dibungkus dengan beberapa helai kain dan disimpan di bawah tongkonan. Arwah orang mati dipercaya tetap tinggal di desa sampai upacara pemakaman selesai, setelah itu arwah akan melakukan perjalanan ke Puya.
Sebuah makam.
Bagian lain dari pemakaman adalah penyembelihan kerbau. Semakin berkuasa seseorang maka semakin banyak kerbau yang disembelih. Penyembelihan dilakukan dengan menggunakan golok. Bangkai kerbau, termasuk kepalanya, dijajarkan di padang, menunggu pemiliknya, yang sedang dalam "masa tertidur". 

Suku Toraja percaya bahwa arwah membutuhkan kerbau untuk melakukan perjalanannya dan akan lebih cepat sampai di Puya jika ada banyak kerbau. Penyembelihan puluhan kerbau dan ratusan babi merupakan puncak upacara pemakaman yang diringi musik dan tarian para pemuda yang menangkap darah yang muncrat dengan bambu panjang. Sebagian daging tersebut diberikan kepada para tamu dan dicatat karena hal itu akan dianggap sebagai utang pada keluarga almarhum.


Ada tiga cara pemakaman: Peti mati dapat disimpan di dalam gua, atau di makam batu berukir, atau digantung di tebing. Orang kaya terkadang dikubur di makam batu berukir. Makam tersebut biasanya mahal dan waktu pembuatannya sekitar beberapa bulan. Di beberapa daerah, gua batu digunakan untuk meyimpan jenazah seluruh anggota keluarga. Patung kayu yang disebut tau tau biasanya diletakkan di gua dan menghadap ke luar.[27] Peti mati bayi atau anak-anak digantung dengan tali di sisi tebing. Tali tersebut biasanya bertahan selama setahun sebelum membusuk dan membuat petinya terjatuh.


Jumat, 08 Juni 2012

foto Jadul

Foto-foto Jadul Titiek Sandhora

Posted by Sulkan in
Foto jadul Titiek Sandhora Foto jadul Titiek Sandhora1Foto jadul Titiek Sandhora2Foto jadul Titiek Sandhora3Foto jadul Titiek Sandhora4Foto jadul Titiek Sandhora5Foto jadul Titiek Sandhora6 Foto jadul Titiek Sandhora7Foto jadul Titiek Sandhora8
Foto lama artis Lokal Titiek Sandora.
Dulu dikenal sebagai penyanyi yang melantungkan lagu "si Jago Mogok"

Foto-foto Jadul Tetty Kadi

Posted by Sulkan in
Foto jadul Tetty Kadi1Foto jadul Tetty Kadi2Foto jadul Tetty KadiFoto jadul Tetty Kadi - Djakarta Wood
3 lembar foto artis Indonesia jaman dulu, ukuran postcard.
Di belakang ada tulisan DILARANG REPRODUKTIE HAK TJIPTA "DJAKARTA WOOD"

Liontin Batu Siung


Posted by Sulkan in ,
Liontin Batu Siung Liontin Batu Siung - kalungLiontin Batu Siung - atasLiontin Batu Siung - depanLiontin Batu Siung - kanan
Batu Liontin bentuk taring atau ujung kuku binatang purba.
Panjang 3,5 cm dan diameter 2 cm.
Untuk kalung aksesories jadul, antik dan etnik.

RESEP DAUN SIRSAK


Di masa ini berbagai jenis penyakit yang dulunya hanya ditemui pada sedikit orang, mulai menjadi populer karena jumlah penderitanya meningkat drastis. Jenis penyakit seperti hipertensi, kolesterol, dan stroke sangat sering kita dengar dan mudah ditemukan di sekitar kita. Selain penyakit berbahaya, penyakit ini dapat mematikan bagi orang yang terkena. Apalagi jika penyakit terus menyerang tubuh dan tidak kita segara selesaikan sumber masalahnya. Sebelum penyakit ini mendekati kita, alangkah baiknya jika kita melakukan pencegahan dini dengan makan, bergizi sehat, dan tidak mengandung kolesterol jahat dan perbanyak banyak sayuran dan buah. Selain itu, tidak hanya dari makanan saja tentu saja, dalam hal minuman juga harus dijaga. Kurangi minuman beralkohol, minuman ringan, minuman kaleng, dan minuman banyak lagi yang berbahaya bagi tubuh kita.

Resep dari Daun Sirsak

Daun sirsak memiliki sangat banyak khasiat. Secara tradisional, banyak orang menggunakan daun sirsak sebagai pengobatan untuk berbagai penyakit. Khasiat daun sirsak adalah untuk membantu menyembuhkan berbagai penyakit seperti maag, keputihan, diare bayi, hipertensi, kolesterol, stroke dan banyak lainnya

. rebusan daun sirsak

Untuk mendapatkan khasiat dari daun sirsak, anda dapat mencoba tiga resep minuman terbuat dari daun sirsak:
1. Kolesterol
Kolesterol adalah komponen penting dari membran sel dan merupakan unsur penting dalam pembentukan asam empedu, hormon steroid, dan vitamin D. Akan tetapi tingkat yang terlalu tinggi kolesterol dalam darah dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah yang menyebabkan penyakit jantung. Untuk menurunkan kadar kolesterol darah, anda dapat membuat resep daun sirsak berikut :
bahan:
- Daun sirsak
Cara membuat:
Ambil 3-5 daun sirsak dan kemudian direbus dengan 2 gelas air.
Angkat dan saring ke dalam gelas setelah hangat.
Minum secara teratur selama 1 bulan.
2. Hipertensi
Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan salah satu faktor gagal jantung, stroke, dan dapat menyebabkan gagal ginjal kronis. Perubahan gaya hidup dan pola makan adalah langkah utama untuk menjaga tekanan darah dalam batas normal dan mengurangi resiko komplikasi dari penyakit tersebut. Resep daun sirsak ini cukup sederhana untuk membantu menurunkan tekanan darah tinggi atau tekanan darah:
bahan:
- Daun sirsak
- Sedikit madu
- Daun salam
- Rambut jagung manis muda
Cara membuat:
Rebus 10 daun daun sirsak dengan 4 gelas air.
Tambahkan sedikit madu untuk rasa, rebus hingga 2-3 gelas air tersisa.
Bisa juga ditambahkan daun salam dan rambut jagung manis (muda).
Minum 2-3 kali sehari.
3. Keputihan
Pengeluaran hormonal pada wanita ditandai dengan sekresi cairan keputihan dari vagina. Jika mikroorganisme yang menyebabkan infeksi muncul, akan ditandai dengan rasa gatal di dalam dan sekitar bibir organ kewanitaan. Infeksi dapat menjalar dan menyebabkan peradangan pada saluran kemih. Berikut adalah resep daun sirsak untuk menjaga vagina dari keputihan dan yang selalu dalam kondisi bersih:
bahan:
- Daun sirsak
- Kunyit
- Garam
- Brown Sugar atau madu
Cara membuat:
Campur 10-15 daun sirsak dan kunyit 5 ukuran jari yang telah dipotong.
Lalu masukkan 4-5 gelas air. Tambahkan garam dan madu atau gula merah (gula merah).
Setelah itu direbus dalam 3 gelas air. Minum 1 gelas 2-3 kali sehari.

SEJARAH KABUPATEN PEMALANG

Eksistensi Pemalang Berdasarkan
Data Sosio-Historis Sampai Abad XIX

Keberadaan Pemalang dapat dibuktikan berdasarkan berbagai temuan arkeologis pada masa prasejarah. Temuan itu berupa punden berundak dan pemandian di sebelah Barat Daya Kecamatan Moga. Patung Ganesa yang unik, lingga, kuburan dan batu nisan di desa Keropak. Selain itu bukti arkeologis yang menunjukkan adanya unsur-unsur kebudayaan Islam juga dapat dihubungkan seperti adanya kuburan Syech Maulana Maghribi di Kawedanan Comal. Kemudian adanya kuburan Rohidin, Sayyid Ngali paman dari Sunan Ampel yang juga memiliki misi untuk mengislamkan penduduk setempat.
Eksistensi Pemalang pada abad XVI dapat dihubungkan dengan catatan Rijklof Van Goens dan data di dalam buku W FRUIN MEES yang menyatakan bahwa pada tahun 1575 Pemalang merupakan salah satu dari 14 daerah merdeka di Pulau Jawa, yang dipimpin oleh seorang pangeran atau raja. Dalam perkembangan kemudian, Senopati dan Panembahan Sedo Krapyak dari Mataram menaklukan daerah-daerah tersebut, termasuk di dalamnya Pemalang. Sejak saat itu Pemalang menjadi daerah vasal Mataram yang diperintah oleh Pangeran atau Raja Vasal.
Pemalang dan Kendal pada masa sebelum abad XVII merupakan daerah yang lebih penting dibandingkan dengan Tegal, Pekalongan dan Semarang. Karena itu jalan raya yang menghubungkan daerah pantai utara dengan daerah pedalaman Jawa Tengah (Mataram) yang melintasi Pemalang dan Wiradesa dianggap sebagai jalan paling tua yang menghubungkan dua kawasan tersebut.
Populasi penduduk sebagai pemukiman di pedesaan yang telah teratur muncul pada periode abad awal Masehi hingga abad XIV dan XV, dan kemudian berkembang pesat pada abad XVI, yaitu pada masa meningkatnya perkembangan Islam di Jawa di bawah Kerajaan Demak, Cirebon dan kemudian Mataram.
Pada masa itu Pemalang telah berhasil membentuk pemerintahan tradisional pada sekitar tahun 1575. Tokoh yang asal mulanya dari Pajang bernama Pangeran Benawa. Pangeran uu asal mulanya adalah Raja Jipang yang menggantikan ayahnya yang telah mangkat yaitu Sultan Adiwijaya.
Kedudukan raja ini didahului dengan suatu perseturuan sengit antara dirinya dan Aria Pangiri.
Sayang sekali Pangeran Benawa hanya dapat memerintah selama satu tahun. Pangeran Benawa meninggal dunia dan berdasarkan kepercayaan penduduk setempat menyatakan bahwa Pangeran Benawa meninggal di Pemalang, dan dimakamkan di Desa Penggarit (sekarang Taman Makam Pahlawan Penggarit).
Pemalang menjadi kesatuan wilayah administratif yang mantap sejak R. Mangoneng, Pangonen atau Mangunoneng menjadi penguasa wilayah Pemalang yang berpusat di sekitar Dukuh Oneng, Desa Bojongbata pada sekitar tahun 1622. Pada masa ini Pemalang merupakan apanage dari Pangeran Purbaya dari Mataram. Menurut beberapa sumber R Mangoneng merupakan tokoh pimpinan daerah yang ikut mendukung kebijakan Sultan Agung. Seorang tokoh yang sangat anti VOC. Dengan demikian Mangoneng dapat dipandang sebagai seorang pemimpin, prajurit, pejuang dan pahlawan bangsa dalam melawan penjajahan Belanda pada abad XVII yaitu perjuangan melawan Belanda di bawah panji-panji Sultan Agung dari Mataram.
Pada sekitar tahun 1652, Sunan Amangkurat II mengangkat Ingabehi Subajaya menjadi Bupati Pemalang setelah Amangkurat II memantapkan tahta pemerintahan di Mataram setelah pemberontakan Trunajaya dapat dipadamkan dengan bantuan VOC pada tahun 1678.
Menurut catatan Belanda pada tahun 1820 Pemalang kemudian diperintah oleh Bupati yang bernama Mas Tumenggung Suralaya. Pada masa ini Pemalang telah berhubungan erat dengan tokoh Kanjeng Swargi atau Kanjeng Pontang. Seorang Bupati yang terlibat dalam perang Diponegoro. Kanjeng Swargi ini juga dikenal sebagai Gusti Sepuh, dan ketika perang berlangsung dia berhasil melarikan diri dari kejaran Belanda ke daerah Sigeseng atau Kendaldoyong. Makam dari Gusti Sepuh ini dapat diidentifikasikan sebagai makam kanjeng Swargi atau Reksodiningrat. Dalam masa-masa pemerintahan antara tahun 1823-1825 yaitu pada masa Bupati Reksadiningrat. Catatan Belanda menyebutkan bahwa yang gigih membantu pihak Belanda dalam perang Diponegoro di wilayah Pantai Utara Jawa hanyalah Bupati-bupati Tegal, Kendal dan Batang tanpa menyebut Bupati Pemalang.
Sementara itu pada bagian lain dari Buku P.J.F. Louw yang berjudul De Java Oorlog Uan 1825 -1830 dilaporkan bahwa Residen Uan Den Poet mengorganisasi beberapa barisan yang baik dari Tegal, Pemalang dan Brebes untuk mempertahankan diri dari pasukan Diponegoro pada bulan September 1825 sampai akhir Januari 1826. Keterlibatan Pemalang dalam membantu Belanda ini dapat dikaitkan dengan adanya keterangan Belanda yang menyatakan Adipati Reksodiningrat hanya dicatat secara resmi sebagai Bupati Pemalang sampai tahun 1825. Dan besar kemungkinan peristiwa pengerahan orang Pemalang itu terjadi setelah Adipati Reksodiningrat bergabung dengan pasukan Diponegoro yang berakibat Belanda menghentikan Bupati Reksodiningrat.
Pada tahun 1832 Bupati Pemalang yang Mbahurekso adalah Raden Tumenggung Sumo Negoro. Pada waktu itu kemakmuran melimpah ruah akibat berhasilnya pertanian di daerah Pemalang. Seperti diketahui Pemalang merupakan penghasil padi, kopi, tembakau dan kacang. Dalam laporan yang terbit pada awal abad XX disebutkan bahwa Pemalang merupakan afdeling dan Kabupaten dari karisidenan Pekalongan. Afdeling Pemalang dibagi dua yaitu Pemalang dan Randudongkal. Dan Kabupaten Pemalang terbagi dalam 5 distrik. Jadi dengan demikian Pemalang merupakan nama kabupaten, distrik dan Onder Distrik dari Karisidenan Pekalongan, Propinsi Jawa Tengah.
Pusat Kabupaten Pemalang yang pertama terdapat di Desa Oneng. Walaupun tidak ada sisa peninggalan dari Kabupaten ini namun masih ditemukan petunjuk lain. Petunjuk itu berupa sebuah dukuh yang bernama Oneng yang masih bisa ditemukan sekarang ini di Desa Bojongbata. Sedangkan Pusat Kabupaten Pemalang yang kedua dipastikan berada di Ketandan. Sisa-sisa bangunannya masih bisa dilihat sampai sekarang yaitu disekitar Klinik Ketandan (Dinas Kesehatan).
Pusat Kabupaten yang ketiga adalah kabupaten yang sekarang ini (Kabupaten Pemalang dekat Alun-alun Kota Pemalang). Kabupaten yang sekarang ini juga merupakan sisa dari bangunan yang didirikan oleh Kolonial Belanda. Yang selanjutnya mengalami beberapa kali rehab dan renovasi bangunan hingga kebentuk bangunan Jogio sebagai ciri khas bangunan di Jawa Tengah.
Dengan demikian Kabupaten Pemalang telah mantap sebagai suatu kesatuan administratif pasca pemerintahan Kolonial Belanda. Secara biokratif Pemerintahan Kabupaten Pemalang juga terus dibenahi. Dari bentuk birokratif kolonial yang berbau feodalistik menuju birokrasi yang lebih sesuai dengan perkembangan dimasa sekarang.
Sebagai suatu penghomatan atas sejarah terbentuknya Kabupten Pemalang maka pemerintah daerah telah bersepakat untuk memberi atribut berupa Hari Jadi Pemalang. Hal ini selalu untuk rnemperingati sejarah lahirnya Kabupaten Pemalang juga untuk memberikan nilai-nilai yang bernuansa patriotisme dan nilai-nilai heroisme sebagai cermin dari rakyat Kabupaten Pemalang.
Penetapan hari jadi ini dapat dihubungkan pula dengan tanggal pernyataan Pangeran Diponegoro mengadakan perang terhadap Pemerintahan Kolonial Belanda, yaitu tanggal 20 Juli 1823.
Namun berdasarkan diskusi para pakar yang dibentuk oleh Tim Kabupaten Pemalang Hari Jadi Pemalang adalah tanggal 24 Januari 1575. Bertepatan dengan Hari Kamis Kliwon tanggal 1 Syawal 1496 Je 982 Hijriah. Dan ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Dati II Kabupaten Pemalang Nomor 9 Tahun 1996 tentang Hari Jadi Kabupaten Pemalang.
Tahun 1575 diwujudkan dengan bentuk Surya Sengkolo “Lunguding Sabdo Wangsiting Gusti” yang mempunyai arti harfiah : kearifan, ucapan/sabdo, ajaran, pesan-pesan, Tuhan, dengan mempunyai nilai 5751.
Sedangkan tahun 1496 je diwujudkan dengan Candra Sengkala “Tawakal Ambuko Wahananing Manunggal” yang mempunyai arti harfiah berserah diri, membuka, sarana/wadah/alat untuk, persatuan/menjadi satu dengan mempunyai nilai 6941.
Adapun Sesanti Kabupaten Pemalang adalah “Pancasila Kaloka Panduning Nagari” dengan arti harfiah lima dasar, termashur/terkenal, pedoman/bimbingan, negara/daerah dengan mempunyai nilai 5751(*)

 tempoe-doloe-copy.jpg

Kamis, 07 Juni 2012

TRADITIONAL BALLADS IN OIL MINING, WONOCOLO



 Upon entering the traditional oil mining in the village Wonocolo, Kedewan district, East Java, the hot sun stung. Among the teak trees sound roar of a diesel engine modified to be used as a pulley and lowered attractive metal pipe to draw Crude Oil from the bowels of the earth, with a depth of up to 300 feet.
As far as the eye could see there was a oil well that is still using human power. On top of a hill five miners were pulled iron pipes tied with rope Wire (wire rope), they ran down the hill, pulling the wire rope to an iron pipe which contains crude oil in the well lifted up.
The distillation of crude oil in the form of diesel fuel they sell at a price of Rp. 600 thousand per drum (230 liters). Very ironic when a village that has become the oil fields for decades, its economy is not increasing living standards. For the miners in the district Kadewan world crude oil prices no one can be proud, in fact they do not feel the increase in the price of the tambangannya.

 bagaimana rasanya narik timba      sumur minyak  ruang kontrol di bawah menara
 minyak yg dihasilkan      operator timba  pelk roda belakang sbg penggulung timba

Rabu, 06 Juni 2012

Revisiting the beauty and uniqueness of Dieng Plateau




Menyingkap Keindahan dan Keunikan Dieng Plateu 
Ten hours drive Jakarta - Wonosobo drove us to the highest plateau in the island of Java, the Dieng. Pass road that meanders uphill, exotic landscape that stretches as far as the eye could see visual treat. Green hills and plantations, the bright blue sky, local communities are still activity, integrated in a balanced harmony of nature.

Along the path towards this Dieng, all the scenery was so interesting, so natural. Direct the cold to greet us, replace the heat that is felt throughout the course. That evening, the beginning of July, temperatures in Dieng area in the range 18 degrees Celsius. According to the local community, usually the coldest temperatures in July-August, where temperatures at night can reach the lowest point up to zero degrees Celsius.

 Crystallized dew-dew on the grass looks for the month. For farmers there, the lowest temperature can be as damaging enemies that threaten their crops. Indeed, in addition to relying on the tourism sector, local residents also rely on the plantation as a livelihood. Potatoes, cabbage, and plant Carica is a mainstay of this region.Dieng Plateau Dieng Plateau, or known, enter the district Banjarnegara and Wonosobo regency, Central Java. Many attractions we can see around this area. Local communities and indigenous Javanese culture that still looks very thick felt when we visited.The area is famous for its legend 'child beggars hair' not only offers incredible natural scenery, but also local specialties that can not be found elsewhere. Mie Ongklok, Carica, Purwaceng and potatoes are some of the culinary snacks can be enjoyed in the area of ​​Dieng. Dieng famous potatoes were tasty and crunchy, even in the untreated state, the potato is able to survive for four months.Hair child GembelDieng Plateau unique store that still we can see. Some children who live in the Dieng has trash hair. Their hair is like a clot of hair for months are not washed and combed. However, not all children in the Dieng has trash hair.Until now there has been definite cause of trash in some children in Dieng. Hobo hair is formed not because of deliberate or genetic factors, tacky hair usually appears after the child has a high fever and is accompanied mengingau during sleep. According to them, symptoms fever can not be treated until eventually the child will heal by itself and after that the hair becomes matted.Usually the child will trash your hair diruwat if there have been requests from the child. Local people believe that ruwat demand is the demand of the Gods. Demand whatever was asked of the child's hair when he was asked diruwat trash, must be met. If not, then the child would be crazy.Interestingly, after the ruwat, hair will grow back to normal as usual. This is the cutting process Ruwatan hair with a long procession and involve indigenous people and traditional leaders.


 Tourism Object

Trip to Dieng, we can visit several attractions in one day alone. Sights are close together and easily accessible. The sights include:
Kawah Sikidang
Deer in Javanese means Kijang. The crater is still active release bursts of hot lava and gas. Bubbles that appear inside the crater seems to move or jump like a Deer. Sulfur smell was terrible, making some of the visitors use a cloth to mask their breathing is not disturbed.





lake colors
Lake that often change color has always been a target tourists because of its beauty. Discoloration caused by algae that live in the lake.


 Arjuna temple complex















Five of the temple stands on equal footing with the background landscape which is very interesting. Arjuna temple complex surrounded by gardens look beautiful because of manicured gardens.
Fresh atmosphere as a green landscape, making this temple complex was peaceful, romantic and far from being mystical. Trees and walkways arranged untu facilitate tourists walking around the temple complex.Kailasa MuseumThrough a mini theater and display various archaeological objects, as if we were invited to 'enjoy' Dieng as a whole, both its history, society and culture, as well as any other uniqueness.Sikunir mountains and Lake TadpoleGolden sunrise to be the most spectacular scenery in an Sikunir successfully climb Mt. 45-minute climb at a very cold morning will pay off with great views. The sun rises between the hills, together with the views of the villages at the foot of the hill and cloud stacks are so close to our bodies.Down from Sikunir, we can relax in tadpoles of the lake while enjoying warm drinks or fried potatoes from several vendors thereCulinaryDo not try to Dieng special food when visiting here. Carica sweets, packaged dalem clear bottle, giving freshness after we tired of the activity.
To fill an empty stomach or try Mie Ongklok of potato snacks. Ongklok noodles, served with hot sauce and beef satay, very fitting Dieng accompany the cold. If you want to taste the snacks, please try Tempe Kemul and fries that are sold by local residents there. Lastly, Tea Purwaceng. Purwaceng is a plant that is considered to increase vitality and stamina.Dieng tourist area is an area that is easy to visit. Public transportation can take us down to the tourist sites. Accommodation is also easy to find a homestay with a very affordable price.If you want to visit Dieng with public transportation, find a bus or train majors Wonosobo / Banjarnegara.Hospitality of the locals, always make ourselves more comfortable to ask questions if unsure of the direction or with the vehicle to be ridden.

Nyanyu Partowiredjo, tourism actorspicnicholic@gmail.com



Rubric is working with PicnicHolicwww.picnicholic.webs.com@ PicnicHo